KEGIATAN DI DADENONG HIGH SCHOOL

artikel ilmiah

POLYCARDPUSH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
PENINGKATAN KOSA KATA BIDANG TEKNOLOGI
SISWA SMKN 2 PASURUAN
Imron Rosidi
SMK Negeri 2 Pasuruan, email: imron_1966@yahoo.co.id


Abstrak: Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, siswa membutuhkan sesuatu yang lebih konkret dalam memahami materi, misalnya memahami kosa kata bidang teknologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa baru kelas X di SMKN 2 Pasuruan melalui media pembelajaran. Media tersebut berupa media Polycardpush. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan perbendaharaan kosa kata di bidang teknologi siswa kelas X TEI 1 SMK Negeri 2 Pasuruan. Peningkatan kosa kata bidang teknologi setelah menggunakan media Polychardpush dapat dilihat dari hasil rata-rata skor yang diperoleh siswa saat pretest yang dibanding dengan hasil posttest. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa skor siswa meningkat hampir enam kali lipat yaitu dari 8,19 menjadi 47,048. Sementara itu, saat pretest diketahui bahwa rata-rata siswa hanya mampu menyebutkan dua komponen. Setelah digunakannya media Polychardpush, rata-rata siswa mampu menyebutkan 10,771 komponen atau meningkat lebih dari lima kali. Dengan demikian, media polycardpush efektif untuk meningkatkan kosa kata siswa bidang teknologi.

Kata kunci: media Polrcardpush, kosa kata, bidang teknologi
       Paradigma pembelajaran selalu mengalami perubahan, dari teacher centered menuju student centered, dari pendekatan behavioristik menuju konstruktivistik, dari keteraturan menuju ketidakteraturan. Perubahan paradigma ini tentunya memiliki tujuan, yaitu ketercapaian tujuan pembelajaran sesuai yang diamanatkan dalam Permendikbud No.70 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum SMK/MAK.
 Pencapaian tujuan pembelajaran ternyata tidak cukup dengan perubahan paradigma. Perubahan ini harus diikuti dengan kemauan guru untuk menjadi change agent. Guru harus terus berinovasi ketika mengajar, baik dalam penyajian materi, penggunaan model pembelajaran, maupun dalam penggunaan media pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMK. Begitu pula dalam membentuk sekolah yang bermutu. Guru merupakan variabel penentu. Guru-guru yang memiliki tingkat adaptasi yang tinggi dalam lingkungan yang selalu berubah dapat membentuk sekolah bermutu. Ilmu pengetahuan guru-guru tersebut selalu terbarukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat. Kemajuan sekolah dipengaruhi oleh tingkat perkembangan keterampilan guru dalam mendongkrak kemajuan siswa belajar. Keterampilan terbaiknya adalah membuat siswa belajar bagaimana caranya belajar.
       Untuk membuat siswa belajar bagaimana cara belajar, seorang guru harus mampu memberikan stimulus dan mampu memposisikan sebagai fasilitator bagi siswanya. Dalam hal ini, guru harus mampu berinovasi dalam membuat media pembelajaran sehingga siswa tidak sekadar mendengar. Siswa membutuhkan sesuatu yang lebih konkret dalam memahami materi, misalnya memahami kosa kata bidang teknologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa baru kelas X di SMKN 2 Pasuruan melalui media pembelajaran. Media tersebut berupa media Polycardpush.
       Media Polycardpush sebagai media pembelajaran merupakan sebuah media yang diinspirasikan dari permainan monopoli dan kartu. Permainan monopoli adalah salah satu permainan papan yang bertujuan untuk menguasai semua petak di atas papan melalui pembelian, penyewaan, dan pertukaran properti dalam sistem ekonomi yang disederhanakan. Sementara itu, yang dimaksud permainan kartu atau lebih dikenal dengan kartu remi adalah sekumpulan kartu seukuran tangan yang digunakan untuk permainan kartu. Fungsi media dalam pembelajaran, termasuk media Polychardpush menurut Nurgiyantoro (2010) adalah (1) memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis, (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya nalar, (3) menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara siswa dengan sumber belajar, dan (4) memungkinkan siswa belajar mandiri dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya. Daryanto (2010:16) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.
       Media Polychardpush ini digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMK. Pembelajaran bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Pasuruan disajikan di kelas X, XI, dan XII di semua program keahlian. Menurut Permendikbud nomor 70 tahun 2013, Untuk kelas X, bahasa Indonesia di SMK diberikan 4 jam per minggu, 4 Jam untuk kelas XI, dan 4 jam untuk kelas XII. Jumlah jam ini meningkat cukup signifikan dibanding dengan kurikulum sebelumnya. Pembelajaran ini bertujuan agar siswa terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis.
       Berdasarkan hasil pre test yang dilakukan pada tahun pelajaran 2014/2015, tepatnya pada tanggal 21 Juli 2014, saat pertama kali peneliti masuk kelas IX TEI 1 sebagai siswa baru, siswa tidak memiliki perbendaharaan yang cukup terhadap kosa kata bidang teknologi, khususnya bidang elektronika. Pre test yang peneliti lakukan menghasilkan data bahwa rata-rata siswa hanya mampu menuliskan rata-rata 1,914 kosa kata atau dua kosa kata. Dengan demikian, media Polychardpush ini digunakan untuk meningkatkan kosa kata siswa kelas X TEI 1 SMK Negeri 2 Pasuruan.

METODE
       Penelitian ini dilakukan di kelas X TEI 1 SMK Negeri 2 Pasuruan. Jumlah siswa di kelas ini adalah 36 siswa. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan media Polycharpush digunakan rancangan Quase eksperiment atau eksperimen semu khususnya rancangan Pre-test and Post-test group. Rancangan ini mensyaratkan tes dilakukan dua kali, yaitu sebelum diberi perlakukan dan setelah melakukan perlakuan, yaitu setelah media Polychardpush digunakan.
       Sementara itu, teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengetahui keterlasanaan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media Polychardpush di kelas XI TEI 1, sedangkan teknik tes digunakan untuk mengetahui perbendaharaan kata bidang teknologi siswa kelas XI TEI 1. Data hasil tes yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan membandingkan rata-rata kosa kata yang dipahami siswa saat pretest dengan rata-rata kosa kata saat posttest.

HASIL
Proses Pembuatan Media Polychardpush
       Media Polycardpush merupakan media pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan awal siswa sebelum mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis. Keempat jenis keterampilan tersebut sulit untuk tercapai apabila kemampuan prasayarat berupa pemahaman kosa kata di bidang teknologi tidak dipunyai siswa. Untuk itu, media Polycardpush ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut.
       Karena belum tersedianya media ini, peneliti melakukan penelitian pengembangan untuk membuat media Polycardpush dengan memperhatikan dan mempelajari permainan monopoli dan kartu. Kedua jenis permainan ini peneliti gabungkan dan membuang beberapa tahap yang tidak diperlukan. Prinsip dasar dalam pembuatan media ini adalah kemenarikan, kepraktisan, keterlaksanaan, dan ketercapaian tujuan pembelajaran.
      Sebelum pembuatan media Polycardpush perlu disiapkan beberapa alat dan bahan. Alat tersebut adalah gunting, penggaris, laptop, dan printer. Gunting digunakan untuk memotong kertas maupun karton sebagai bahan dasar pembuatan media. Gunting yang digunakan berukuran besar dan kecil. Gunting berukuran besar digunakan untuk memotong karton, sedangkan gunting kecil untuk memotong kertas. Penggunaan gunting besar dan kecil dapat digunakan secara bergantian.
Alat yang kedua adalah penggaris. Penggaris digunakan untuk mengukur penampang monopoli dan kartu. Penggaris juga digunakan untuk mengukur lebar dan panjang gambar komponen elektronika. Selain itu, penggaris digunakan untuk mengukur lebar dan panjang gambar komponen elektronika.
       Alat yang ketiga adalah laptop. Laptop digunakan untuk mencari gambar bidang elektronika. Selain itu, laptop digunakan untuk mengetik keperluan pembuatan media. Alat yang terakhir yang dibutuhkan adalah printer. Printer digunakan untuk mencetak gambar dan tulisan yang berhubungan dengan media. Printer ini memiliki dua tinta, yaitu tinta hitam dan berwarna.
       Selain keempat alat yang dibutuhkan di atas, peneliti juga mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, yaitu dadu dan gacoan. Dadu digunakan untuk berapa kali gacoan harus dijalankan, sedangkan gacoan digunakan untuk permainan. Setelah semua alat tersedia, peneliti mempersiapkan bahan. Bahan tersebut antara lain kardos/karton, kertas HVS, dan lem.
       Karton sebagai penampang monopoli dan kartu. Karton digunakan untuk penampang monopoli berukuran 37 cm x 37 cm. Sementara itu, karton yang digunakan untuk kartu berukuran 6 cm X 9 cm. Selain karton, pembuatan media Polycharpush membutuhkan kertas HVS. Kertas HVS digunakan untuk mencetak gambar dan berbagai tulisan yang digunakan untuk membuat media Polycardpush. Kertas HVS yang digunakan memiliki ukuran A4 dan legal dengan berat 80 gram.
       Bahan terakhir adalah lem. Lem digunakan untuk merekatkan gambar dan fungsi komponen elektronika pada lembar atau papan monopoli. Selain itu, lem digunakan untuk merekatkan kertas yang berisi gambar dan nama komponen pada kartu. Lem yang digunakan untuk pembuatan media ini adalah lem kertas.

Proses Pembuatan Media Polycardpush
       Proses pembuatan media Polycardpush tidaklah rumit. Setelah semua bahan dan alat tersedia, peneliti mempersiapkan karton yang akan digunakan sebagai penampang monopoli dan kartu. Karton dipotong dengan ukuran 37 cm x 37 cm untuk penampang monopoli dan 6 cm x 9 cm untuk kartu. Setelah itu, dibutuhkan berbagai gambar komponen elektronika beserta fungsinya. Gambar dan fungsi direkatkan pada penampang monopoli, sedangkan gambar dan nama komponen ditempelkan di kartu. Secara ringkas, proses pembuatan media Polychardpush sebagai berikut.
1. Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
      Pembuatan media Polychardpush dimulai dengan mempersiapkan alat dan bahan. Alat yang dimaksud adalah barang yang dipakai untuk mengerjakan/ membuat media. Sementara itu, yang dimaksud bahan adalah barang yang akan dipakai untuk membuat barang lain, yaitu media polychardpush. Alat yang digunakan antara lain gunting, laptop, printer, dan penggaris, sedangkan bahan yang diperlukan antara lain karton, kertas HVS, dan lem.
2. Mengukur dan menggunting karton untuk penampang monopoli dan kartu
      Karton yang akan digunakan diukur terlebih dahulu dengan penggaris. Untuk monopoli diukur dengan ukuran 37 cm x 37 cm dan untuk kartu diukur dengan ukuran 6 cm x 9 cm. Setelah diukur, karton digunting sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan.
3. Mempersiapkan gambar komponen elektronika beserta fungsinya yang di-download dari internet
      Langkah selanjutnya adalah mencari gambar berbagai komponen elektronika yang diambil dari internet. Gambar komponen yang dibutuhkan berjumlah 20 gambar komponen. Masing-masing bidang berisi lima komponen. Gambar-gambar tersebut selanjutnya ditata dengan ukuran 5 cm x 6 cm.
4. Mencetak gambar dan gungsi pada kerta HVS dengan menggunakan printer Epson L 120 dengan warna biru, hijau, merah, dan kuning
      Gambar komponen elektronika beserta fungsinya selanjutnya dicetak dengan menggunakan printer pada kertas HVS A4 80 gram. Sebelum dicetak, gambar ditata sesuai dengan ukuran kotak yang ditentukan, yaitu 5 cm x 6 cm untuk monopoli dan 6 cm x 9 cm untuk kartu. Selain itu, gambar dan kotak diberi warna untuk membantu siswa memahami jenis komponen elektronika ketika bermain polychardpush.
5. Menggunting gambar yang sudah dihasilkan dan ditempel pada penampang monopoli dan kartu.
      Gambar yang sudah dicetak selanjutnya digunting dan ditempelkan pada bidang monopoli dan kartu. Penempelan menggunakan lem kertas. Saat pengguntingan yang perlu diperhatikan adalah ketepatan ukurannya sehingga bisa pas ketika ditempelkan pada karton.
6. Mempercantik tampilan media polychradpush
      Untuk mempercantik tampilan media polychardpush diperlukan kertas warna dan memberi nama media. Dengan kertas warna diharapkan siswa bisa lebih tertarik untuk bermain polychardpush, seperti tampak pada gambar berikut.
7. Mempersiapkan dadu dan gacoan
      Perangkat lainnya yang dibutuhkan untuk media polychradpush adalah dadu dan gacoan. Dadu dibuat dari kayu limbah mebel yang banyak didapat di Pasuruan. Limbah ini selanjutnya dipotong empat persegi dan diberi bintik hitam, sementara gacoan diambil dari mainan catur anak-anak yang sudah tidak terpakai atau lainnya.
8. Mempersiapkan aturan permainan dan kamus
      Sebagai bentuk media baru diperlukan aturan permainan dan kamus yang digunakan sebagai pemandu permainan. Aturan permainan disusun secara praktis sesuai dengan langkah-langkah permainan. Sementara itu, kamus berisi gambar dan fungsi komponen elektronika.

Pedoman Penggunaan Media Polichardpush
       Media pembelajaran Polycardpush merupakan media baru hasi inovasi peneliti. Media ini terinspirasi dari permainan monopoli dan kartu. Kedua jenis permainan ini dipadukan sehingga dapat membantu guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sebagai media baru diperlukan sebuah petunjuk atau pedoman penggunaannya. Adapun pedoman itu adalah sebagai berikut.
1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan empat orang sebagai pemain, satu orang sebagai KAMUS, dan maksimal tiga orang sebagai pengamat.
2. Periksalah kelengkapan media, antara lain bidang monopoli satu buah, kartu empat warna sebanyak 40 buah, gacoan, dan sebuah dadu.
3. Bukalah media Polychardpush dan letakkan gacoan pada kotak hitam bertulis Mulai.
4. Bagikan kartu komponen dengan mengocok terlebih dahulu. Bagikan secara berurutan, setiap pemain mendapat sepuluh (10) kartu.
5. Mainkan media Polychardpush dengan mengundi terlebih dahulu siapa yang lebih dulu bermain dengan melempar dadu. Pelemparan yang mendapatkan nilai tertinggi bermain terlebih dahulu atau sebagai pemain 1, 2, 3, dan 4.
6. Pemain pertama melempar dadu dan melangkahkan gacoan sesuai dengan hasil pelemparan dadu. Pemain membacakan fungsi komponen tempat gacoan berada.
7. Pemain yang memiliki kartu komponen yang memiliki fungsi yang dibacakan membuang kartu dengan meletakkan di samping area permainan dengan menekan, bukan melempar. Sambil meletakkan, pemain membacakan nama komponen dalam kartu. Petugas Kamus memeriksa kebenaran kartu yang dibuang para pemain.
8. Semua pemain yang memiliki kartu dengan komponen yang dimaksud bisa membuang kartunya. Apabila ada pemain yang memiliki dua kartu dengan nama komponen yang sama, pemain dapat membuang kartu lebih dari satu.
9. Apabila ada pemain yang gacoannya sampai pada kotak berwarna hitam bertulis Buang 1 Kartu, pemain pelempar dadu dapat membuang satu kartu mana suka, pemain lain dilarang membuang,
10. Apabila gacoan pemain jatuh pada kotak hitam tertulis Mulai, berarti masuk pada kotak zoonk, artinya tidak ada pemain yang membuang kartu.
11. Apabila gacoan jatuh pada kotak berwarna ungu, pemain bisa membuang kartu kembar yang dimiliki. Apabila tidak, pemain tidak bisa membuang kartu. Pemain lain tidak boleh membuang meskipun memiliki kartu kembar.
12. Pemain yang kartunya habis terlebih dahulu dianggap sebagai pemenang.
13. Permainan dilanjutkan oleh pemain selanjutnya sampai semua kartu terbuang. Pemain yang kartunya masih ada adalah pemain yang kalah dan harus menyebut minimal tiga istilah elektronika yang diingat.

Prosedur Penggunaan Media Polycardpush dalam Pembelajaran
       Penggunaan media Polycardpush dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai dengan menuliskan kompetensi dasar yang hendak dicapai di papan tulis. Selain itu, guru juga menuliskan tujuan memahami komponen-komponen elektronika. Penulisan kompetensi dasar ini diperlukan untuk memberi pemahaman kepada siswa tentang arah pembelajaran yang akan diperoleh.
       Setelah menuliskan kompetensi dasar, guru mengeluarkan media Polycardpush sambil menjelaskan tentang penggunaannya. Penjelasan dilakukan guru dengan menggunakan LCD. Penjelasan difokuskan pada urutan penggunaan media Polycardpush dan bagaimana menentukan pemenangnya. Selain itu dijelaskan bahwa pemain yang kalah diberi hukuman dengan menyebut tiga komponen yang diingat.
       Selanjutnya guru mempersilakan siswa membentuk kelompok dan mengatur bangku menjadi lima kelompok. Para pemain melingkari bidang polichardpush dan satu pemain sebagai Kamus. Dalam permainan Polycardpush, pemain sebagai Kamus sebagai bank dalam permainan monopoli. Siswa lain yang tidak bermain bertindak sebagai pengamat.
Dalam permainan Polycardpush, siswa menemukan beberapa komponen elektronika beserta fungsinya. Permainan dilakukan secara bergantian dalam satu kelompok. Siswa yang kalah diganti oleh siswa pengamat. Dengan bermain Polycardpush, siswa sudah tidak asing lagi terhadap kosa kata bidang teknologi, khususnya bidang elektronika. Setelah semua bermain, siswa mengumpulkan media kepada Bapak/Ibu guru.
       Untuk mengetahui perbendaharaan kata bidang teknologi, khususnya tentang komponen elektronika, guru melakukan tes. Seperti halnya saat pretest, siswa diberi lembar kerja. Siswa dapat menuliskan maksimal lima belas komponen elektronika beserta fungsinya. Apabila siswa menuliskan dengan benar akan mendapatkan skor maksimal 150 dari komponen dan 150 dari fungsi. Dengan demikian, skor maksimal 300 per siswa.
       Di akhir pembelajaran, guru mempersilakan siswa membaca wacana eksposisi yang berhubungan dengan bidang elektronika. Pemahaman terhadap komponen elektronika dapat membantu siswa dalam memahami bacaan. Selain itu, siswa juga diberi waktu untuk bertanya apabila ada yang perlu ditanyakan.

Hasil yang Diperoleh
       Penelitian ini menghasilkan media inovasi berupa media Polycardpush. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan media ini dalam meningkatkan kosa kata bidang teknologi, khususnya bidang elektronika, peneliti melakukan dua kali uji coba di kelas X TEI 1. Tes yang pertama untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap kosa kata bidang elektronika, sedangkan tes kedua dilakukan untuk mengetahui kosa kata siswa bidang elektronika setelah penggunaan media Polycardpush.

Kebermanfaatan Penggunaan Media Polycardpush
       Kekurangmampuan siswa dalam menganalisis dan memahami wacana eksposisi tentang teknologi salah satunya diakibatkan kurangnya perbendaharaan kosa kata siswa bidang teknologi. Untuk itu diperlukan media Polychardpush dengan manfaat sebagai berikut.
1. Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, bukan pada guru.
     Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media Polychardpush mengurangi peran dominan guru dalam pembelajaran. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Siswa aktif melakukan kegiatan pembelajaran dengan bermain Polychardpush. Hal ini sesuai dengan ruh kurikulum 2013 yang mengubah paradigma dari pembelajaran berpusat pada guru beralih ke siswa.
2. Menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan atau PAIKEM.
     Pembelajaran PAIKEM dapat diejawantahkan dari penggunaan media Polychardpush dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa aktif bermain sambil memahami fungsi dan komponen elektronika. Siswa juga selalu berinovasi dan kreatif cara memenangkan permainan, misalnya dengan tidak membuang kartu kembar ketika gacoan jatuh pada kotak hitam.
3. Menambah khasanah media pembelajaran Bahasa Indonesia.
     Media pembelajaran Bahasa Indonesia relatif kurang. Ada kesan bahwa guru Bahasa Indonesia hanya berceramah ketika mengajar. Salah satu penyebab keadaan ini adalah kurangnya media pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, media Polychardpush dapat menambah khasanah media pembelajaran Bahasa Indonesia.
4. Siswa lebih aktif untuk menambah kosa kata siswa di bidang teknologi
     Media Polychardpush dapat menambah perbendaharaan kata bidang teknologi siswa. Ada dua puluh istilah bidang elektronika dalam media ini beserta fungsinya. Dengan demikian, minimal siswa memiliki perbendaharaan dua puluh kata.
5. Memberi pengetahuan prasyarat sebelum siswa memahami isi wacana eksposisi tentang teknologi
     Dalam kompetensi dasar Bahasa Indonesia berdasarkan Permendikbud nomor 70 tahun 2003 disebutkan bahwa siswa mampu menganalisis teks laporan hasil observasi, berupa wacana eksposisi bidang teknologi. Untuk mampu memahami wacana tersebut dibutuhkan pengetahuan prasyarat, yaitu pemahaman terhadap komponen elektronika. Pengetahuan prasyarat tersebut dapat diperoleh dari media Polychardpush.
6. Mempermudah siswa untuk memahami istilah-istilah bidang teknologi, khususnya bidang elektronika
     Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan media Polychardpush dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini dapat membantu siswa dalam memahami komponen elektronika karena siswa membacakan fungsi komponen ketika gacoannya sampai pada kotak bidang monopoli. Selain itu, ketika siswa membuang kartu, pemain harus menyebutkan nama komponen dalam kartu. Penyebutan secara berulang-ulang dapat mempermudah siswa dalam memahami istilah-istilah tersebut.

PEMBAHASAN
       Penggunaan media Polychardpush di kelas X TEI 1 dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tampak lebih menarik. Siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan guru tentang berbagai komponen bidang teknologi beserta fungsinya. Tanpa menggunakan media Polychardpush, pembelajaran tampak searah, yaitu dari guru ke siswa. Hal ini tidak dapat menggali kreativitas siswa.
       Penggunaan media Polychardpush dapat membuat siswa memiliki kepedulian terhadap pendapat orang lain. Media ini juga dapat membentuk sikap kerja sama dengan teman satu kelompok. Hal ini bisa dilihat dari bantuan siswa sebagai kamus apabila pemain mengalami kesulitan. Selain itu, siswa sebagai pengamat juga bisa membantu pemain ketika salah dalam membuang kartu. Siswa pengamat juga bisa memberi semngat ketika ada salah satu siswa hampir memenangkan permainan.
       Dari efektivitas waktu, pembelajaran Bahasa Indonesia dengan media Polychardpush lebih efektif dalam menanamkan konsep kosa kata bidang teknologi. Siswa cepat memahami kosa kata bidang teknologi karena dalam permainan Polychardpush tidak sekadar berisi kosa katanya, tetapi juga gambarnya. Artinya, media ini juga menunjukkan secara visual komponen yang akan dipahami. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes siswa, yaitu dari rata-rata dua kosa kata yang dipahami siswa saat pretest menjadi 10 kosa kata saat uji coba kedua. Perubahan ini cukup signifikan.
       Secara rata-rata, skor siswa meningkat sebelum penggunaan media Polychardpush dengan sesudah penggunaan media. Sebelum menggunakan media Polychardpush, skor rata-rata yang diperoleh siswa X TEI 1 adalah 8,19. Sementara itu, setelah menggunakan media Polychardpush, skor rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 47,048. Peningkatan lebih dari lima kali lipat.
       Untuk mengetahui efektivitas penggunaan produk berupa media Polychardpush, peneliti menggunakan rancangan Quase eksperiment atau eksperimen semu dengan rancangan Pre-test and Post-test group. Rancangan ini mensyaratkan tes dilakukan dua kali, yaitu sebelum diberi perlakukan dan setelah melakukan perlakuan, yaitu setelah media Polychardpush digunakan.
       Saat dilakukan prestest, yaitu pada saat siswa baru masuk sebagai siswa SMKN 2 Pasuruan didapat bahwa perbendaharaan kata siswa bidang teknologi relatif rendah. Dari 35 siswa yang mengikuti pretest, hanya ada tiga siswa yang mampu menuliskan empat komponen elektronika dengan benar, yaitu M. Khoiron, Masykur, dan Mokh. Safarudin. Sementara itu, siswa yang tidak mampu menyebutkan satu pun komponen elektronika ada tiga siswa, yaitu Ari Purwanto, Chasani, dan Inggit. Tentunya hal ini cukup memprihatinkan.
       Ditinjau dari segi rata-rata pemahaman siswa terhadap kosa kata bidang teknologi hanya sekitar 8,19. Artinya skor siswa sangat rendah, sedangkan rata-rata istilah yang diketahui siswa hanya 1,914. Angka ini berarti siswa mampu menuliskan komponen elektronika yang diketahui paling banyak dua komponen.
       Untuk meningkatkan perbendaharaan kata tersebut diperlukan sebuah media, yaitu media Polychardpush. Dari hasil posttest diketahui bahwa siswa yang bernama Ari Purwanto sudah mampu menyebutkan delapan komponen elektronika dengan benar dan dua fungsi dengan benar sehingga mendapat skor 100. Padahal, saat pretest, siswa ini tidak mampu menyebutkan satu pun komponen elektronika, begitu pula pada Chasani dan Inggit.
       Dari segi skor yang diperoleh siswa juga ada peningkatan secara signifikan. Saat pretest, skor yang diperoleh 8,19. Setelah penggunaan media Polychardpush, skor yang diperoleh siswa 47,048 atau meningkat hampir enam kali lipat. Begitu juga rata-rata komponen yang diketahui siswa. Saat pretest diketahui bahwa rata-rata siswa hanya mampu menyebutkan dua komponen. Setelah digunakannya media Polychardpush, rata-rata siswa mampu menyebutkan 10,771 komponen atau meningkat lebih dari lima kali.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
       Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan (1) alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan media Polychardpush meliputi gunting, laptop, penggaris, dan printer. Bahan yang diperlukan misalnya karton, kertas HVS, lem, dadu, dan bidak, (2) proses pembuatan media Polychardpush relatif mudah, (3) prosedur penggunaan media Polychardpush dimulai dengan pembentukan kelompok dan dilanjutkan dengan pembagian media, selanjutnya siswa menentuan peran masing-masing, dan pemain yang habis terlebih dahulu kartunya dianggap sebagai pemenang, sedangkan yang kalah wajib menyebutkan tiga komponen yang diingat, dan (4) peningkatan kosa kata bidang teknologi setelah menggunakan media Polychardpush lebih dari lima kali lipat.

Saran
       Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah (1) bagi guru, hasil penelitian ini tidak hanya dapat digunakan oleh guru Bahasa Indonesia saja, tetapi juga guru produktif, khususnya guru jurusan elektronika, (2) bagi siswa, hasil penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami komponen-komponen elektronika beserta fungsinya. Untuk itu, siswa dapat menggunaan media ini setiap saat, dan (3) bagi sekolah, hasil penelitian ini bisa terus dikembangkan dengan menyediakan dana pengembangannnya.

Daftar Rujukan
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran: Peranannya sangat Penting dalam Mencapai Tujuan
       Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan
       Kebudayaan Nomor 70 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum
       SMK/MAK Jakarta: Depdikbud.
Mustaji dan Sugiarso. 2005. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik. Surabaya: Unesa
       Prees.
Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. 2005. Media Pengajaran. Bandung: CV Sinar Baru.
Uno, Hamzah B. 2010. Media Pembelajaran: Menciptakan Proses belajar Mengajar yang
       Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.

abstrak disertasi

ABSTRAK
Rosidi, Imron. 2014. Pengembangan Model Pembelajaran Membaca Cepat di SMA        Berbasis e-Learning. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia,           Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H.               Dawud, M.Pd, (II) Prof. Dr. Suyono, M.Pd, (III) Dr. Nurhadi, M.Pd

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Membaca Cepat, Berbasis e-Learning
              Membaca cepat adalah keterampilan membaca sekilas dengan mengondisikan otak bekerja lebih cepat sehingga konsentrasi akan lebih membaik secara otomatis. Dalam membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Dalam pembelajarannya, membaca cepat di SMA hendaknya berorientasi pada standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, yaitu siswa mampu memahami berbagai teks bacaan nonsastra dengan berbagai teknik membaca. Lebih khusus lagi, standar kompetensi dasar membaca cepat diberlakukan secara berjenjang. Untuk kelas X, standar kompetensi membaca cepat adalah menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat 250 kpm, mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kpm untuk kelas XI, dan untuk kelas XII, standar kompetensi membaca cepat adalah menemukan ide pokok suatu teks dengan membaca cepat 300-350 kpm.
              Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model prosedural yang merujuk pada hasil pengadaptasian dua model, yaitu model ASSURE (analyze leaners; state objectives, select methods, media, and materials; utilize materials; require leaners participation, evaluate and revise) dengan model Front-end System design yang erat kaitannya dengan pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan untuk penyelenggaraan Sistem Pendidikan jarak jauh. Penggunaan model ASSURE karena model pengembangan ini sangat efektif apabila digunakan untuk pembelajaran yang menggunakan media dan teknologi, sedangkan penggunaan model pengembangan Front-end System karena pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning dapat dilakukan dengan sistem jarak jauh.
            Subjek uji coba penelitian pengembangan ini ada tiga jenis, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Pada uji perseorangan, yang menjadi subjek adalah ahli pembelajaran membaca Uji ahli dilakukan peneliti dalam proses pembimbingan. Selain itu, subjek uji perseorangan juga dilakukan kepada praktisi, yaitu guru bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Pasuruan yang mengajar di kelas XI. Uji efektivitas produk dilakukan di kelas XI IPA1 dan IPA 2. Selain itu, uji efektivitas juga dilakukan dengan teknik wawancara dengan guru dan siswa terhadap keunggulan dan kelemahan pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning.>
              Hasil penelitian berupa model pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning dan software MC. Produk model pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Produk perencanaan meliputi silabus pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning, RPP pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning, dan materi pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning. Pelaksanaan pembelajaran membaca cepat di SMA memuat empat kegiatan pokok, yaitu (1) kegiatan memilih bacaan, (2) kegiatan menyelesaikan pembacaan secara cepat terhadap bacaan yang dipilih, (3) kegiatan mengisi soal pemahaman, dan (4) kegiatan menghitung kecepatan efektif membaca.
              Hasil penelitian yang kedua adalah software MC. Software MC menggunakan program Microsoft Visual Basic. Software ini dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan guru dan siswa dalam pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning di SMA. Diharapkan software ini mampu membantu guru untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan kegiatan membacanya serta menghitung tingkat keterpahaman siswa terhadap isi bacaan. Software MC ini berisi isian data pengguna, bahan pelatihan awal, berbagai jenis bacaan, dan soal-soal pemahaman. Dalam software MC juga terdapat rekomendasi tingkat KEM pengguna (siswa) setelah melakukan pengukura KEM. Bacaan dan soal pemahaman dalam software MC juga dapat dengan mudah diganti sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
              Beberapa saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah (1) model pembelajaran membaca cepat berbasis e-Learning ini hendaknya dikembangkan untuk pembelajaran di SD kelas lanjut, SMP, maupun umum, (2) Pengembangan model pembelajaran membaca cepat untuk SD, SLTP, maupun umum dapat dilakukan dengan menambah bacaan dan soal pemahaman yang sesuai dengan tingkat keterbacaan dan minat anak, (3) Software membaca cepat ini bisa dikembangkan lebih lanjut dengan tidak hanya digunakan untuk mengukur KEM siswa, tetapi juga untuk mengukur kecerdasan seseorang bagi kalangan umum.

PTK SANG JUARA

Ptk Sang Juara
Oleh: Imron Rosidi, M.Pd

Mungkin di antara kita pernah merasa kecewa dalam sebuah lomba KTI, khususnya PTK. Karya tulis yang telah disusun dengan susah payah dalam waktu yang cukup lama tiba-tiba kalah. Padahal, kita sudah berusaha mengikuti beberapa teori tentang teknik membuat PTK yang baik, penggunaan bahasa ilmiah, dan sistematika yang telah ditentukan. Akan tetapi, mengapa PTK tersebut masih saja tidak juara? Ada beberapa syarat sebuah PTK bisa menjadi juara. Syarat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Judul PTK harus provokatif (menarik)
    Ada sebuah PTK yang tebal dengan lampiran yang lengkap. Akan tetapi, mengapa PTK
    tersebut tidak dinilai oleh dewan juri? Hal itu disebabkan dua hal, yaitu
    (1) judul tidak menggambaran sebuah PTK, dan
    (2) tidak menarik karena sudah biasa dan sering ditemukan di perpustakaan ataupun di
         internet.
    Judul PTK bercirikan empat hal, yaitu ada penyakit (masalah) yang akan ditingkatkan,
    ada obat (tindakan) yang digunakan, ada pasien (siswa) kelas berapa tindakan itu
    diberikan, dan ada rumah sakit (sekolah)tempat siswa tersebut belajar. Selain itu,
    tindakan yang diberikan hendaknya menarik dan bias membuat juri bertanya tentang
    jenis tindakan yang digunakan.
Contoh:
(1) Peningkatan kemampuan memahami jenis bangun dengan menggunakan media LCD
     siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan (kurang menarik)
(2) Peningkatan kemampuan memahami jenis bangun dengan menggunakan media PARET
     siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan (menarik)

2. Tindakan yang digunakan inovatif
    Inovatif yang dimaksud dalam PTK berupa tindakan hasil inovasi peneliti. Inovasi yang
    dimaksud adalah hasil kreativitas peneliti dengan menggabungkan berbagai media,
    model, metode, strategi,dan teknik pembelajaran. Saya teringat ketika ada seorang guru
    menggunakan model pembelajaran mozaik.Guru tersebut menjadi juara Lomba
    Keberhasilan Guru (LKG) tingkat nasional. Model mozaik yang dimaksud ternyata
    gabungan dari berbagai model pembelajaran yang telah kita kenal, mulai dari model
    TGT, Jagsaw, TPS, dan sebagainya. Di sinilah letak nilai inovasi yang ada.
Contoh:
(1) Penggunaan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan kemampuan memahami
     jenis paragraf siswa kelas VII A SMP Wahid Hasyim Mojokerto (kurang inovatif)
(2) Penggunaan metode tadarus untuk meningkatkan kemampuan memahami jenis
     paragraf siswa kelas VII A SMP Wahid Hasyim Mojokerto (inovatif)

3. Memiliki prosedur yang benar
    Sebuah PTK selalu ditandai dengan adanya siklus, bisa dua siklus, bisa juga tiga siklus.
    Tidak pernah ada sebuah PTK yang hanya ada satu siklus karena belum terlihat adanya
    peningkatannya.Kalau dibandingkan dengan prasiklus, bukanlah PTK, tetapi penelitian
    eksperimen. Hasil prasiklus sebagai kelompok kontrol, sedangkan hasil siklus satu
    merupakan kelompok eksperimen. Begitu&n juga tidak pernah ada PTK yang memiliki
    lebih dari tiga siklus karena kalau itu terjadi berarti tindakannya perlu diganti atau
    obatnya tidak manjur. Mengenai berapa pertemuan setiap siklusnya? Memang ada yang
    mengatakan bahwa setiap siklus diusahakan memiliki lebih dari satu pertemuan karena
    kalau hanya satu pertemuan dianggap program remidi, bukan PTK.

4. Lampirannya lengkap
    Lampiran dalam PTK sangat dibutuhkan untuk membuktikan; keabsahan hasil
    penelitian. Lampiran akan meyakinkan dewan juri apakah PTK tersebut benar-benar
    dilakukan atau sekadar laporan palsu. Hal-hal yang perlu dilampirkan antara lain RPP
    masing-masing siklus, instrumen yang digunakan (lembar observasi dan tes), contoh
    hasil kerja siswa, danfoto kegiatan.

Inilah yang dapat saya berikan kepada pembaca dalam sebuah tulisan singkat ini. Apabila ada yang perlu didiskusikan, pembaca bisa menghubungi saya dalam email imron_1966@yahoo.co.id atau no HP 081210500199. Terima kasih, semoga bermanfaat. amin

MODEL RPP BERDASARKAN KURIKULUM 2013

MODEL RPP BERDASARKAN KURIKULUM 2013
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA SMK
KODE KD : 3.7


SATUAN PENDIDIKAN SMK NEGERI 2 PASURUAN
MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
KELAS/SEMESTER X/2 (DUA)
TOPIK Kedatangan Islam ke Nusantara
ALOKASI WAKTU 2 x 45 menit ( 1 pertemuan)

A. KOMPETENSI DASAR
Kompetensi
Dasar
1.1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.1 Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-
      jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),
      santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai
      bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
      secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
      menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
      dunia.
3.7 Menganalisis berbagai teori tentang proses masuk dan
      berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia.
4.7 Mengolah informasi mengenai proses masuk dan perkembangan
      kerajaan Islam dengan menerapkan cara berpikir kronologis, dan
      pengaruhnya pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini
      serta mengemukakannya dalam bentuk tulisan.

B. INDIKATOR PENCAPAIAN PEMBELAJARAN
    1. Menganalisis berbagai teori  tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan
        kebudayaan Islam Indonesia.
    2. Merumuskan  pendapat  tentang  teori  yang  ada  tentang prosesnya masuk dan
        berkembangnya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
    Melalui diskusi, mengamati, dan membaca referensi, siswa dapat:
    1. Menunjukkan sikap toleransi sesama pemeluk agama di Indonesia.
    2. Menunjukkan  sikap  bangga  terhadap  tokoh  pelontar  teori  penyebaran Islam ke
        nusantara.
    3. Menunjukkan  kemampuan  menganalisis  berbagai  teori tentang proses masuk dan
        berkembannya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia.
    4. Menunjukkan kemampuan menilai teori yang paling tepat tentang masuknya Islam ke
        nusantara
    5. Menunjukkan    keterampilan   menyusun   rumusan   tentang    proses  masuk   dan
        perkembangnya Islam ke Indonesia dalam bentuk flowchat.

D. MATERI AJAR
    1. Kedatangan Islam ke Nusantara
    2. Islam dan Jaringan Antarpulau

E. PENDEKATAN, STRATEGI, DAN MOTODE PEMBELAJARAN
    1. Pendekatan : Saintifik
    2. Strategi/model: TGT
    3. Metode

Ceramah Kedatangan Islam ke nusantara
Diskusi
Kelompok
Menilai teori yang paling tepat tentang masuknya Islam ke nusantara
Tanya Jawab ¤ Tokoh pelontar teoti penyebar agama Islam ke nusantara
¤ Kebudayaan Islam di Indonesia
Unjuk kerja ¤ Membuat flowchat penyebaran agama Islam ke nusantara
- Demonstrasi
- ………… ………………………………………………


F. MEDIA PEMBELAJARAN
    1. LCD proyektor
    2. Papan tulis

G. SUMBER BELAJAR
Pustaka rujukan ¤ Buku materi Sejarah SMK untuk kelas X karangan Restu
   Gunawan, dkk. penerbit Poltek Negeri Media Kreatif
   Jakarta, halaman 137 s.d. 142
Material: VCD
kaset, poster
¤ VCD Masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara
¤ Poster pelontar teori penyebaran agama Islam ke nusantara
- Media cetak
dan elektronik
-
Website
internet
¤ Masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara
- Narasumber -
- Model peraga -
- Lingkungan -


H. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
TAHAP DESKRIPSI WAKTU
PENDAHULUAN
(Apersepsi)

10 menit
¤ Guru memberi salam
¤ Guru mempersilakan siswa untuk berdoa
¤ Guru menanyakan keaadaan siswa
¤ Guru   mempresensi   kehadiran   siswa   dan
   menyampaikan topik yang akan dipelajari
¤ Siswa diajak untuk mengingat kembali
   pembelajaran sebelumnya tentang sejarah
   Indonesia yang telah diperoleh siswa.
¤ Guru memberi contoh berbagai budaya Islam di
   Indonesia
0,5 menit
0,5 menit
1 menit
2 menit

3 menit


3 menit

KEGIATAN INTI

70 menit
¤ Siswa dijelaskan tentang perkembangan dan
   kebudayaan Islam ke nusantara melalui tayangan
   power point lewat LCD proyektor
¤ Siswa mendapat penjelasan tentang model TGT.
¤ Siswa membentuk kelompok dengan model
   pembelajaran TGT berdasarkan nama-nama yang
   disebutkan guru.
¤ Siswa berdiskusi dalam kelompok A, kelompok B,
   dan kelompok C tentang tokoh penyebar agana
   Islam di Indonesia dengan cara mengambil kartu
   di masing-masing kelompok.
¤ Siswa berganti kelompok dan menyebar di seluruh
   meja turnamen I, meja turnamen II, dan meja
   turnamen III
¤ Siswa berdiskusi di kelompok turnamen tentang
   teori yang paling tepat tentang masuk dan
   perkembangan Islam ke Indonesia
¤ Siswa menyampaikan hasil diskusi dalam setiap
   kelompoknya.
¤ Siswa yang lain menanggapi hasil diskusi masing-
   masing kelompok.
¤ Ketua kelopok menghiitung skor tim berdasarkan
   skor turnamen anggota tim,
15 menit


2 menit
4 menit


25 menit



5 menit


10 menit


5 menit

3 menit

1 menit

PENUTUP

10 menit
¤ Siswa menyimpulkan hasil diskusi dibantu guru
   untuk memilih teori yang paling tepat tentang
   proses masuk dan perkembangan islam dan
   budaya ke nusantara
¤ Siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran
   yang sudah berlangsung
¤ Siswa mendapat tugas tentang peta penyebaran
   agama Islam ke nusantara.
¤ Guru menutup pelajaran dengan doa
¤ Guru mengucapkan salam
5 Menit



3 menit

1 menit

0,5 menit
0,5 menit


I. PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
TEKNIK DAN BENTUK Tes Lisan
Tes Tertulis dalam bentuk uraian
- Observasi Kinerja/Demontrasi
Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas individu
Pengukuran Sikap
- Penilaian diri
INSTRUMEN /SOAL ¤ Lembar observasi sikap
RUBRIK/KRITERIA
PENILAIAN/BLANGKO
OBSERVASI
¤ rubrik sikap dalam diskusi
¤ rubrik penilaian pembuatan flowchat


1. Bentuk Tes Lisan (Tanya jawab)
    Siapakah tokoh pemilik teori penyebaran agama Islam ke nusantara berikut?

2. Bentuk Tes Tertulis
    a. Apakah bunyi teori ketiga tokoh yang Anda lihat tadi?
    b. Bagaimanakah biografi pelontar teori penyebaran agama Islam ke nusantara?
    c. Bagaimanakah sikap Anda terhadap teori tokoh tersebut?
    d. Mengapa Anda berpendapat bahwa teori tersebut paling benar?

3. Bentuk Nontes (tugas)
    Tugas individu membuat flowchat masuk dan perkembangan Islam ke nusantara

4. Instrumen Penilaian
    a. Tugas membuat flowchat
    NAMA SISWA : .....................................
    KELAS            : .....................................

NO KRITERIA A B C D E
(91-100) (81-90) (71-80) (61-70) (51-60)
1.



Ketertampungan pokok-pokok isi flowchat tentang masuk dan perkembangan Islam ke nusantara
2.

Kebenaran simbol dalam flowchat


Rubrik Penilaian 1
A        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 90% s.d. 100%
B        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 80% s.d. 90%
C        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 70% s.d. 80%
D        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 60% s.d. 70%
E        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan < 60%

Rubrik penilaian 2
A        : kebenaran simbol 90% s.d. 100%
B        : kebenaran simbol 80% s.d. 90%
C        : kebenaran simbol 70% s.d. 80%
D        : kebenaran simbol 60% s.d. 70%
E        : kebenaran < 60%

    b. Penilaian Sikap dalam Berdiskusi
NO KRITERIA      1           2           3           4     
1.
Aktif Berdiskusi
2.
Bahasa yang digunakan
sopan
3.
Tidak menyela dalam diskusi


Rubrik penilaian 1
1           : aktif berdiskusi < 60%
2           : aktif berdiskusi 60% s.d. 70%
3           : aktif berdiskusi 70% s.d. 80%
4           : aktif berdiskusi 80% s.d 100%
Rubrik penilaian 2
1           : kata tdk sopan 4 kali
2           : kata tdk sopan 3 kali
3           : kata tdk sopan 2 kali
4           : kata tdk sopan 0 s.d. 1 kali

Rubrik penilaian 3
1           : menyela lebih dari 4 kali
2           : menyela 3 s.d.4 kali
3           : menyela 1 s.d. 2 kali
4           : tidak menyela sama sekali



Mengetahui,                                                                                       Guru mata Pelajaran,
Kepala SMKN 2 Pasuruan                                                                    Sejarah Indonesia




Drs. Anali Setio, M.Pd                                                                        Imron Rosidi, M.Pd
19570712 198603 1 009                                                                     19660610 198903 1 022



LAMPIRAN 1
    1. TEORI TENTANG MASUK DAN BERKEMBANGANNYA ISLAM KE
        NUSANTARA DARI BERBAGAI AHLI SEJARAH DARI:
        a. Buku paket
        b. Internet
        c. Berbagai buku sejarah dan biografi

LAMPIRAN 2
GAMBAR TOKOH PELONTAR TEORI TENTANG PENYEBARAN AGAMA ISLAM KE NUSANTARA GAMBAR KEBUDAYAAN INDONESIA PENGARUH ISLAM

PENDIDIKAN

HARI BUKU NASIONAL MUTIARA YANG TERLUPAKAN
Oleh: Imron Rosidi, M.Pd
Mungkin kalau kita ditanya tentang hari bersejarah apa yang diperingati setiap bulan Mei? Kita semua serempak akan menjawab hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Hari untuk mengenang jasa seorang pahlawan pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara. Hari pada saat diadakannya berbagai lomba, pameran, dan seminar-seminar pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional. Akan tetapi, kita mungkin lupa bahwa pada bulan itu ada hari yang juga bersejarah dan sangat urgen untuk dijadikan momentum kebangkitan bangsa, yaitu Hari Buku Nasional. Mengapa hal ini terlupakan? Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor hari tersebut kalah jika dibanding dengan peringatan lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah tidak dijadikannya hari itu sebagai hari besar nasional. Selain itu, buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia masih terjangkit penyakit aliterat - mampu membaca, tetapi malas membaca. Hal ini berdampak pada kemampuan menulis masyarakat Indonesia. Penerbitan buku di Indonesia masih yang terendah dibandingkan Malaysia dan Singapura, yaitu sekitar 3.000 s.d. 10.000 judul buku per tahun. Sungguh ironis bagi negara yang berpenduduk terbesar ketiga di dunia.

Mungkin telinga kita terbiasa mendengar sebuah ungkapan bernada klise, Buku adalah jendela dunia. Membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku. Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting, bahwa membaca (iqra’) ternyata merupakan perintah Allah Swt kepada seluruh umat manusia, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Alaq [96] ayat 1-5. Hanya saja, ungkapan-ungkapan tersebut belum sepenuhnya disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Entah karena deraan krisis ekonomi yang masih menyelimuti bangsa ini sehingga buku belum menjadi menjadi skala prioritas, atau mungkin masyarakat kita masih banyak yang lebih mengutamakan aspek meterial, seperti HP, sepeda motor, mobil, perhiasan, dan sebagainya. Bahkan, di kalangan pelajaran dan mahasiswa muncul semacam slogan “lebih baik membeli pulsa dibanding dengan membeli buku”. Siswa dan mahasiswa bersenjatakan HP, bukan bersenjatakan buku.

Hari Buku Nasional dan Hari Buku Dunia Peringatan Hari Buku Nasional biasanya dibarengkan dengan Hari Buku Dunia (World Book Day). Kedua hari bersejarah ini masih terasa asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk para pelajar. Hari Buku Dunia diperingati setiap 23 April, sedangkan Hari buku nasional setiap 17 Mei. Penggunaan 23 April sebagai Hari Buku Dunia bertepatan dengan tanggal lahir sekaligus wafatnya seorang penulis besar, yaitu William Shakespeare. World Book Day yang dirancang oleh UNESCO adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Indonesia pertama kali memperingati Hari Buku Nasional di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day dan Hari Buku Nasional sebagai sebuah ajang untuk memberi semangat kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca. Masyarakat diajak untuk selalu memegang buku dan membacanya di mana dan kapan saja dia berada. Masyarakat diajak untuk gemar mengunjungi perpustakaan-perpustakaan seimbang dengan kegemarannya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan belanja. Hal ini perlu dibentuk seiring dengan adanya era globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sudah saatnya masyarakat Indonesia melebarkan aktivitasnya dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan Hari Buku Dunia dan Hari Buku Nasional agar lebih menggaungkan buku dan literasi di tengah masyarakat.

Perayaan Hari Buku Dunia dan Hari Buku Nasional diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal itu terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada hari Minggu hanya 55,11 persen, sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44.28 persen, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 juga menyebutkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) dibanding membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia juga dapat dilihat dari hasil riset International Association for Evaluation of Educational (IEA) tahun 1992. IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai sarana untuk memperoleh informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio. Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2 persen. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1 persen.

Dengan demikian, tidak ada kata lain yang dapat diungkapkan selain Jadikan Hari Buku Dunia dan Hari Buku nasional sebagai momentum menuju Indonesia lebih baik. Kemajuan sebuah negara tidak bisa lepas dari kualitas SDM negara tersebut. Melalui kegiatan membaca diharapkan wawasan kita bertambah luas, seluas cakrawala dunia. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Dengan begitu, berkat membaca kelak kita bisa lebih mengenal Allah Swt. Tak hanya itu, kita juga bisa mengenal alam semesta dan diri sendiri (QS Al-Alaq [96] ayat 1-5).

HBN, Mutiara yang Terlupakan Jika dikaitkan dengan perintah Allah Swt di atas, seharusnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam mampu melakukan aktivitas membaca dengan baik. Hal itu disebabkan aktivitas membaca merupakan suatu perintah dari Allah Swt melalui Alquran. Jadi, aktivitas membaca bisa dianggap sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Hanya saja, dalam realitasnya aktivitas tersebut tidak gampang diwujudkan. Membaca sebagai menu utama dalam kehidupan dapat ditemui di negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, dan Singapura. Di tempat-tempat umum, seperti tempat tunggu di bandara udara, stasiun kereta api, dan di terminal-terminal dengan mudah kita temui orang yang sedang membaca. Toko-toko buku mudah ditemukan dan selalu dipenuhi oleh para pembeli. Di pinggir-pinggir jalan juga dapat dengan mudah kita dapatkan bahan bacaan yang bisa diambil secara gratis. Apakah hal ini ditemukan di negara kita?

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membawa bangsa kita sejajar dengan negara-negara maju di bidang minat baca adalah dengan tidak melupakan perayaan hari Buku Nasional (HBN). Sebenarnya, perayaan HBN di Indonesia sudah dirayakan setiap tahunnya. Hanya saja, perayaan HBN masih terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, dan hanya di tempat-tempat tertentu. Perayaan HBN yang dapat penulis catat misalnya peringatan Hari Buku Sedunia dan Hari Buku Nasional dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 20 Juni 2009. Kegiatan ini diisi oleh pameran, bursa buku, diskusi (talkshow) serta pemutaran film. Pameran diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari 5 Instansi di lingkungan Depdiknas, 3 lembaga perpustakaan dari pemerintahan, 3 perwakilan dari negara asing, 5 dari asosiasi dan organisasi, dan 2 lembaga pendidikan. Bursa Buku diikuti oleh 29 peserta dari penerbit dan distributor buku. Pada peringatan Hari Buku Nasional tahun 2011, IKAPI Jakarta dan Forum Indonesia Membaca meluncurkan program Gerakan Hibah Buku, tepatnya 17 Mei 2010. Gerakan Hibah Buku dilaksanakan dengan menghimpun buku-buku dari penerbit-penerbit Indonesia dan masyarakat umum untuk didistribusikan ke taman bacaan masyarakat. Pengumpulan buku hibah dilakukan bersamaan dengan penyelenggaraan World Book Day Indonesia dan Hari Buku Nasional 2010 mulai tanggal 15-25 Mei 2010 di Museum Mandiri.

Berbagai acara di atas sudah dilaksanakan sejak 2006. Hanya saja, gaung perayaan tersebut masih belum dirasakan masyarakat di daerah-daerah kota dan kabupaten lainnya. Masyarakat masih asing dengan HBN. Hal itu disebabkan beberapa faktor, antara lain: (1) belum dijadikan HBN sebagai hari besar nasional, (2) belum adanya perayaan HBN di daerah-daerah, (3) perayaan HBN belum menjadi agenda atau program Dispendik, (4) minat baca masyarkat Indonesia relatif rendah, (5) buku belum menjadi kebutuhan utama masyarakat, (6) slogan-slogan HBN belum terpampang di tempat-tempat umum, dan (7) belum dimasukkannya pelajaran reading dan writing dalam kurikulum di setiap jenjang pendidikan.

Untuk menjadi HBN sebagai mutiara yang dinantikan diperlukan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah hendaknya mulai berpikir untuk menjadikan HBN sebagai hari besar nasional, memasukkan mata pelajaran reading dan writing dalam kurikulum, melaksanakan berbagai lomba tingkat nasional dalam rangka perayaan HBN, seperti tahun ini yang diselenggarakan Pusbuk, menyediakan tempat-tempat baca yang representatif di setiap sudut bangunan pemerintahan dan daerah, mempermudah izin usaha toko buku kepada para pengusaha, menjadikan perayaan HBN sebagai program Dispendik, serta menyediakan berbagai spanduk dalam rangka perayaan HBN.

Selain peran pemerintah, masyarakat juga harus mau melakukan perubahan (change agent), baik dari segi budaya maupun mental. Budaya konsumtif terhadap barang-barang mewah perlu sedikit dikurangi dengan menyediakan dana untuk membeli buku. Buku hendaknya menjadi kebutuhan utama setiap individu dalam keluarga. Masyarakat hendalnya juga ikut berpartisipasi dalam perayaan HBN, misalnya dengan memasang spanduk. Apabila semua ini dapat diejawantahkan, insyaallah perayaan HBN tahun ini lebih meriah dapat menyentuh berbagai kalangan masyarakat, terutama para pelajar. Perayaan HBN bukan lagi sebuah mutiara yang terlupakan, tetapi mutiara yang dirindukan.

PENDIDIKAN

SMKN 2 PASURUAN DALAM PERINGATAN PUSPA DAN SATWA 2012
LOMBA DAN PAMERAN FOTO SERTA UJI PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK
PASURUAN – Peringatan Hari Puspa dan Satwa 2012 dan pelaksanaan Program RAYA BERSEMI (Rabu Ceria Bersihkan Sekolah Menuju Bersih dan Bebas Polusi) di SMKN 2 Pasuruan berlangsung sangat meriah. Peringatan yang dihadiri oleh seluruh siswa, guru. Staf TU, dan komite ini diawali dengan apel Pagi. Dalam apel tersebut, H. Imron Rosidi, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini dalam rangka menyukseskan salah satu program 4 S yang meliputi Sukses Adiwiyata, Sukses ISO, Sukses Lomba LKS, dan Sukses Ujian Nasional. Selanjutnya, kepala sekolah berharap siswa mampu berperilaku sehat dan terbiasa hidup bersih dan tumbuh rasa cinta terhadap puspa dan sastwa. Imron juga mengajak siswa SMKN 2 Pasuruan supaya tidak lagi corat-coret bangku, membuang sampah sembarangan, makan makanan yang tidak sehat, dan menjaga kebersihan kamar kecil.    Pameran dan Lomba Foto ini ternyata mendapat sambutan yang luar biasa oleh siswa. Lomba yang seharusnya diikuti oleh 38 peserta sesuai dengan jumlah kelas, ternyata diikuti oleh 49 perserta. Hal ini disebabkan ada beberapa alumni yang ikut mengirimkan karyanya. Lomba tersebut diharapkan tumbuh rasa cinta siswa terhadap semua satwa dan puspa yang ada di lingkungan sekolah yang pada akhirnya di lingkungan Kota Pasuruan dalam rangka menyukseskan program Pemerintah Daerah, yaitu meraih PIALA ADIPURA TAHUN 2013.    Dalam lomba foto tersebut dihasilkan juara 1, 2, dan 3, serta foto favorit pilihan para guru. Juara 1 mendapat hadiah Rp 250.000 atas nama Azil Sufroni dengan judul Mik Cucu dengan tujuan melestarikan anak cucu monyet. Juara 2 dengan hadiah Rp. 200.000 atas nama Dimas Wahyu dengan judul Go Green yang mempunyai tujuan perlindungan terhadap hutan mangrove. Juara ke 3 mendapat hadiah Rp. 150.000 atas nama Zein Zidqi dengan judul samiagulkas. Foto favorit pilihan guru mendapat hadiah Rp. 100.000,- karya Zainul arifin dengn judul Pohon Bakau.    Dalam kegiatan ini juga diadakan kegiatan bersih-bersih kelas, bangku, lingkungan sekolah, bersih-bersih sungai, dan uji teknologi tepat guna, yaitu tabung pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak dan bensin. Alat yang sangat sederhana ini terbuat dari tabung gas 3 kg yang ditambah dengan pipa ke atas untuk proses distilasi untuk menjadi tetes cairan minyak. Tempat pembakarannya menggunakan kaleng bekas cat 40 kg dengan bahan bakar limbah mebel berupa serbuk gergaji. Alat ini akan diproduksi secara masal oleh UPJ SMKN 2 Pasuruan untuk sekolah-sekolah di kota Pasuruan yang membutuhkan. “Saya siap untuk memproduksi secara masal agar permasalahan limbah di sekolah dan Kota Pasuruan bisa teratasi,” kata kepala sekolah yang didampingi Chrisdhiyanto selaku ketua TIM Adiwiyata.

mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Negara sebagai juara 1 guru prestasi tingkat nasional

pendidikan

PENERAPAN MANAJEMEN KEUANGAN MASJID
DI LEMBAGA PENDIDIKAN

Oleh: Imron Rosidi, M.Pd


Abstrak: Tiga pendekatan dalam akuntabilitas manajemen keuangan sebuah instansi, yaitu: Disclosure, transparansi, dan kesesuaian dengan program. Ketika pendekatan itu telah dilakukan oleh manajemen keuangan masjid yang bisa diadopsi oleh manajemen keuangan sekolah yang rawan kebocoran. Kebocoran bisa terjadi karena derasnya keluar masuknya keuangan di sebuah sekolah. Bisakah diterapkan?

Paradigma baru manajemen pendidikan menekankan perlunya pelayanan yang bermutu sesuai kebutuhan stakeholders. Salah satu pilar utama yang mendukung pelayanan yang bermutu adalah penerapan akuntabilitas (pertanggungjawaban) pada semua satuan penyelenggaran pendidikan. Akuntabilitas lembaga pendidikan lebih menitikberatkan pada sejauhmana manajemen penyelenggaraan lembaga pendidikan dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mempertangungjawabkan kebijakan dan programnya sesuai harapan dan tuntutan para stakeholders.
Penerapan akuntabilitas manajemen lembaga pendidikan, dalam hal ini manajemen keuangan sekolah, dapat dilakukan melalui tiga pendekatan ini: disclosure, transparansi, dan penyesuaian program dengan kebutuhan. Disclosure berupa pengumuman secara terbuka kepada semua komponen sekolah mengenai keadaan terakhir keuangan yang ada di sekolah. Pendekatan yang kedua adalah transparansi. Transparansi berfokus pada pemberian akses informasi kepada seluruh komponen sekolah tentang proses keluar masuknya keuangan sekolah. Akuntabilitas keuangan yang baik dapat dilihat dari pendekatan yang ketiga, yaitu kesesuaian antara penggunaan keuangan sekolah dengan program yang merupakan skala prioritas.
Ketiga pendekatan dalam akuntabilitas di atas telah diterapkan dalam manajemen keuangan masjid. Manajemen di sini berarti suatu proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumberdaya organisasi agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lebih khusus, manajemen keuangan sekolah berarti suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh sekolah.
Pengolahan keuangan masjid sangat memperhatikan ketiga pendekatan dalam akuntabilitas. Setiap hari akan terpampang kondisi keuangan masjid, mengenai pemasukan dan pengeluaraannya sehingga setiap jemaah mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan pendekatan discosure. Selain itu, setiap akan dilangsungkannya khotbah Jumat, pengurus akan mengumumkan secara terbuka proses penggunaan keuangan masjid. Dengan ini pengurus masjid sudah melakukan pendekatan transparansi. Pengurus masjid juga menggunakan keuangan masjid sesuai dengan kebutuhan, misalnya pembayaran listrik dan air, serta kebutuhan dana untuk berbagai kegiatan di masjid.
Apakah manajemen keuangan masjid bisa diterapkan di sekolah untuk menekan tingkat kebocoran keuangan sekolah? Apabila kita mengingat pesan AA Gim, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari hal kecil, dan Mulailah sekarang juga, penerapan manajemen keuangan masjid di sekolah pasti bisa, asal ada niat baik dari seluruh komponen sekolah, terutama pengelola keuangan, KTU dan kepala sekolah. Pengelola keuangan mau berbuat jujur, KTU tidak kong kalikong dengan kepala sekolah, dan kepala sekolah berani terbuka terhadap semua kebutuhan keuangan sekolah. Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Coba kita tengok betapa rumitnya pengolahan keuangan sekolah, misalnya di sekolah menengah. Selain terdapat keuangan BOS, BKM, BOMM yang harus dikelolah sekolah, juga ada uang yang berasal dari siswa untuk Prakerin, kunjungan industri dan sejarah, uang SPP, serta Bantuan Komite Sekolah. Setiap hari sekolah mengeluarkan uang untuk proses pembelajaran. Setiap hari pula sekolah menerima uang dari siswa. Bagaimana kita tahu kalau di sekolah tersebut tidak terjadi kebocoran? Di sinilah fungsi manajemen keuangan masjid diadopsi dan diadaptasi oleh pihak sekolah.
Pengelolaan keuangan sekolah dengan mengedepankan akuntabilitas dapat dilakukan dengan cara sekolah harus berani mengumumkan secara terbuka kondisi keuangan setiap upacara hari senin oleh pembina upacara. Secara rinci, sekolah harus berani menempelkan kondisi keuangan sekolah setiap akhir bulan. Untuk melihat kesesuaian pengeluaran dengan program prioritas, kepala sekolah harus berani menyampaikan penggunaan uang sekolah yang tidak terduga, yang tidak sesuai program, kepada semua komponen sekolah ketika ada rapat dinas. Dengan demikian, penerapan manajemen keuangan dengan mengedepankan akuntabilitas diharapkan dapat mengurangi tingkat kebocoran keuangan sekolah.

artikel kebahasaan

SUMBANGSIH ALIRAN STRUKTURALISME
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Bahasa adalah sistem simbol vokal arbitrer yang memungkinkan orang-orang yang hidup dalam budayanya, atau orang yang sudah mempelajari sistem budaya terkait menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Dalam pandangan di atas, bahasa memiliki fungsi yang terkait dengan identitas manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya. Sejak lama manusia telah menyadari pentingnya bahasa dan penguasaan bahasa untuk perkembangan peradaban. Hingga sekarang, semakin maju peradaban manusia semakin besar peran bahasa dalam kehidupan.

Untuk itu, kemampuan berbahasa siswa sangat penting bagi perkembangan suatu bangsa. siswa sebagai pembaru, pemimpin, dan calon-calon pemimpin bangsa harus memilik kemampuan berbahasa yang baik. Jika tidak, berarti masa depan bangsa sedang terancam. Bahaya yang akan timbul pada masa depan adalah sulitnya kemunikasi kerja dan tidak efektifnya kepemimpinan karena pesan-pesan tidak dapat disampaikan dengan efektif dan kemampuan menyerap informasi baru sangat lambat.
Pembelajaran bahasa Indonesia sudah diberikan sejak pendidikan level terendah sampai perguruan tinggi. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ditekankan pada pengasaan keterampilan berbahasa siswa, mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek pengetahuan berbahasa, mulai dari fonem, morfem, frasa, klausa, dan kalimat diajarkan secara terintegrasi dengan keterampilan berbahasa. Sebagai contoh, siswa tidak langsung belajar tentang perbedaan frasa dengan klausa, tetapi mencari frasa dan klausa dalam tulisannya.
Analisis bahasa mulai dari yang terkecil menuju yang besar (kalimat) merupakan bentuk sumbangsih salah satu aliran bahasa, yaitu strukturalisme. Aliran ini memiliki ciri kegramatikalan berdasarkan keumuman. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi. Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat. Selain itu, ciri aliran ini mengikuti aliran behavioristik, yaitu menganut sistem drill dalam mengajarkan bahasa. Hal ini tampak dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas-kelas rendah, mulai TK sampai SD kelas rendah.
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra manusia Indonesia. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan menyimak, kemampuan berbicara, kemampuan membaca, dan kemampuan menulis. Keempat jenis kemampuan tersebut diajarkan secara integratif.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap puisitif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Adapun tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara, (3) memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan keampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, serta (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Aliran Linguistik Strukturalisme
Aliran strukturalis berlandaskan pola pikir behavioristik. Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916 yang bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern.
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasakan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini menguraikan konsep telaah sinkronik dan diakronis, perbedaan langue dan parole, perbedaan signifiant dan signifie, dan hubungan sintagmatik dan pradikmatik yang banyak berpengaruh dalam perkembangan linguistik di kemudian hari.
a. Sinkronis dan Diakronis
Telaah sinkronik dan diakronis. Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik, artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Misalnya, mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan saat ini saja, sedangkan telaah diakronis artinya telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh penuturnya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa telaah bahasa secara diakronis adalah jauh lebih kompleks daripada telaah sinkronis. Sebelum terbit buku Course de Linguistique Generale Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915, telaah bahasa selalu dilakukan orang secara diakronis. Ahli-ahli pada waktu itu belum sadar bahwa bahasa dapat diteliti secara sinkronis. Inilah salah satu pandangan de Saussure yang sangat penting sehingga sekarang dapat diberikan pemerian terhadap suatu bahasa tertentu tanpa melihat sejarah bahasa itu.
b. Langue dan Parole
Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan yang dimaksud dengan parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa; sifatnya konkret karena parole itu tidak lain adalah realitas fisik yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Dalam hal ini yang menjadi objek telaah linguistik adalah langue yang tentu saja juga parole karena parole itulah wujud bahasa yang konkret yang dapat diamati dan diteliti.
c. Signifiant dan Signifie
Ferdinand de Saussure mengemukakan teori bahwa setiap tanda atau tanda linguistik dibentuk oleh dua buah komponen yang tidak terpisahkan yaitu komponen signifiant dan komponen signifie. Yang dimaksud dengan signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran, sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran. Selanjutnya, ada yang menyamakan signe itu sama dengan kata; signifie sama dengan ‘makna’; dan signifiant sama dengan bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu.
Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanya mengacu pada sebuah acuan atau refrensi yang berada di alam nyata sebagai sesuatu yang ditandai oleh signifie linguistique.
d. Sintagmatik dan Paradikmatik
Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan sintagmatik ini terdapat baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan makna kata itu. Umpamanya pada kata kita terdapat hubungan, fonem-fonem dengan urutan /k, i, t, a/. Apabila urutannya diubah, maka maknanya akan berubah, atau tidak bermakna sama sekali.
Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tetapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali. Misalnya makan hati tidak sama dengan hati makan, kata matahari tidak sama dengan harimata. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali. Sebagai contoh dapat dilihat berikut ini.
Hari ini barangkali dia sakit
Barangkali dia sakit hari ini
Dia sakit hari ini barangkali
Dia sakit barangkali hari ini
Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara substitusi, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi tampak pada contoh antara bunyi /r/, /k/, /b/, /m/, dan /d/ yang terdapat pada kata rata, kata, bata, mata, dan data. Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada prefiks me-di-, pe-, dan te- yang terdapat pada kata-kata merawat, dirawat, perawat , dan terawat, sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis pada antara kata-kata yang menduduki fungsi sebjek, predikat, dan objek. Sebagai contoh dapat dilihat berikut ini.
Ali membaca koran

Dia membeli buku

Adik mengambil boneka
Adapun ciri-ciri Aliran linguistik struktural adalah: (1) Berlandaskan pada faham behaviourisme. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response); (2) Bahasa berupa ujaran. Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa . dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture; (3) Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional. Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna, sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.
Ciri selanjutnya adalah (4) bahasa merupakan kebiasaan (habit). Berdasarkan sistem habit, pembelajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan; (5) Kegramatikalan berdasarkan keumuman; (6) Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi. Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat; (7) Analisis dimulai dari bidang morfologi; (8) Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik; (9) Analisis bahasa secara deskriptif, dan (10) Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.
Sumbangsih Aliran Strukturalisme dalam Pembelajaran Bahasa
Arah pembinaan bahasa Indonesia sebagai pegangan utama dalam pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia dituangkan dalam kurikulum bahasa Indonesia yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006. Salah satu standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat dimiliki siswa SMK berdasarkan KTSP adalah berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat unggul dengan kompetensi dasar menyimak untuk memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana. Kompetensi dasar ini selanjutnya dikembangkan dalam beberapa indikator, yaitu: (1) memperlihatkan rekasi kinetik (menunjukkan sikap memperhatikan, mencatat) terhadap penayangan prosa sederhana, (2) menunjukkan reaksi verbal berupa komentar terhadap konteks penayangan prosa sederhana, (3) menceritakan kembali isi prosa yang ditayangkan dengan menggunakan kata-kata sendiri, (4) mengungkapkan unsur intrinsik prosa fiksi (tokoh, perwatakan, latar, plot, tema).
Sumbangsih aliran strukturalisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia tampak pada asumsi yang diusung, yaitu: Pertama, bahwa prosedur kerja linguistik (struktural) dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa. Asumsi ini mengisyaratkan kepada penekanan perlunya latihan berbicara dan menggunakan informan asli untuk menirukan dan latihan lafal. Melalui latihan-latihan pasangan minimal siswa berlatih membedakan fonem-fonem, dan berusaha menghasilkan fonem dalam cara pasangan minimal yang dapat dikenali penutur asli. Setelah itu siswa mempelajari isyarat-isyarat gramatikal (morfem, kata tugas, urutan kata), melalui berbagai-bagai latihan subtitusi dan perluasan dalam bentuk pola-pola latihan (drill).
Asumsi ini memang tampak jelas pada pembelajaran bahasa Inggris di sekolah taman Kanak-Kanak atau di SD kelas rendah. Akan tetapi, untuk pembelajaran bahasa Indonesia, asumsi ini tampak ketika guru sedang mengajarkan kalimat, yang dimulai dari pengenalan kata-kata atau nama-nama barang di sekitar siswa. Guru lebih dulu memperkenalkan kata sebelum kalimat. Pola-pola kalimat dengan berbagai bentuk juga diajarkan guru bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah.
Kita dapat mengidentifikasikan aspek-aspek aliran struktural yang berpengaruh dalam pengajaran bahasa terutama metode audio-lingual. Terdapat penekanan yang lebih besar terhadap berbicara daripada menulis, dalam tahap awal metode audio-lingual. Hal ini disadari oleh asumsi kedua yang menyatakan bahwa materi pengajaran bahasa harus disajikan dalam bentuk latihan berbicara sebelum siswa diperkenalkan dengan latihan menulis. Pada tahap awal keterampilan berbahasa berbicara dan menyimak dianggap lebih penting, dan baru kemudian membaca dan menulis.
Hal ini tampak pada pembelajaran bahasa di sekolah Taman kanak-kanan (TK). Anak-anak TK lebih banyak diajak untuk berkomunikasi secara lisan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Anak TK tidak ditekankan pada pembelajaran membaca dan menulis. Anak TK dan SD kelas rendah lebih banyak diberi tugas untuk bercerita pengalaman pribadi, menyimak cerita dari guru, atau berkomunikasi lisan dengan teman sebaya.
Linguistik struktural tidak terlalu memperhatikan makna. Dalam analisis bahasa, mereka tidak membentuk-bentuk yang mirip. Oleh karena itu, asumsi ketiga yang disodorkan adalah bahwa tidaklah penting bagaimana makna itu diperoleh siswa. Makna itu dapat ditanyakan saja langsung kepada penutur asli.
Asumsi yang keempat menyatakan bahwa tidak perlu menyajikan gradasi dan urutan kekomplekan gramatikal pada materi yang dipelajari siswa. Asumsi ini berdasarkan kepada tesis dalam analisis struktural bahwa ahli bahasa hanya memiliki kontrol yang sedikit terhadap kekomplekan data yang diperoleh dari informannya. Apabila ahli bahasa itu menemukan data (ujaran) yang terlalu kompleks, cenderung menghindar atau dipilih dari yang tidak komplek. Dalam pengajaran bahasa mereka berpendapat bahwa struktur yang kompleks akan menyulitkan siswa dalam proses memorinya.
Salah satu alasan mengapa kaum strukturalis kurang memperhatikan makna dalam analisisnya karena mereka berpendapat bahwa makna ini bersifat abstrak, tidak dapat diindra. Makna ini hanya ada dalam pikiran sehingga makna dianggap bersifat subjektif. Ilmuwan mestilah mengamati fenomena dan baru mempelajarinya. Tegasnya ilmuwan harus mempelajari apa yang bisa diamati. Sikap yang demikian melahirkan asumsi yang kelima yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah tingkah laku dan tingkah laku dapat dipelajara dengan cara melakukan. Oleh karena itu, siswa mempelajari bahasa dengan cara melakukan respon dalam praktek-praktek latihan kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar.
Asumsi yang terakhir ini sesungguhnya hasil dari analisis kaum psikologi behavioris. Orang dapat mendiskusikan lebih lanjut tentang teknik pengajaran bahasa melalui respon dari penguatan ini. Asumsi-asumsi di atas terutama asumsi ketiga dan keempat banyak mengandung perdebatan di kalangan guru bahasa, sedangkan asumsi yang kelima telah diserang langsung penganut tata bahasa generatif.
Penutup
Pada prinsipnya, sebuah aliran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan aliran strukturalisme. Sebagai contoh, Metode drill yang ditawarkan pada aliran ini sudah kurang cocok untuk SD kelas tinggi dan sekolah lanjutan. Kelemahan yang lain misalnya pembentukan kebiasaan (habit formation) antara lain adalah bahwa siswa tidak dilatih menggunakan kalimat (struktur) dalam situasi komunikasi yang aktual. Namun kekuatannya juga ada, yaitu penguasaan akan kaidah-kaidah yang dipelajari oleh siswa sangat besar. Untuk itu, seorang guru bahasa Indonesia harus mampu memformulasikan berbagai aliran dalam melaksanakan tugasnya agar siswanya